kemitraan Stragis Rusia dan UE (Kompas, 2 April 2007)

Opini
Senin, 02 April 2007
Multilateral
Masa Depan Kemitraan Strategis Rusia dan Uni Eropa

 

Anak Agung Banyu Perwita

“For us, Europe is a major trade and economic partner and our natural, most important partner, including in the political sphere.” (Vladimir Putin)

Sebagaimana tercermin dari kutipan di atas, Rusia selalu berupaya meningkatkan intensitas hubungannya dengan Uni Eropa (UE) dalam berbagai bidang, khususnya ekonomi dan politik (forging deeper ties). Namun, di sisi lain, Rusia juga tetap berupaya mempertahankan kedaulatannya sebagai negara besar dalam menegosiasikan bidang-bidang kemitraan yang dilakukannya dengan UE (retaining complete souvereignty).

Dua elemen utama kebijakan luar negeri Rusia terhadap Eropa inilah yang kemudian mendasari pembentukan Partnership and Cooperation Agreement (PCA) antara Rusia dan UE pada tahun 1997 (yang akan berakhir pada 30 November 2007) dan kemudian membentuk kemitraan strategis di antara kedua aktor politik ini pada tahun 1999.

Dalam perjalanannya, kemitraan strategis Rusia dan UE terus mengalami pasang surut. Rusia dan UE memiliki banyak kesamaan kepentingan ekonomi dan politik. Namun, di sisi lain, kedua entitas politik ini juga memiliki beragam perbedaan persepsi dan implementasi nilai-nilai demokrasi, standar politik, dan penegakan hukum.

Sejak ditandatanganinya PCA pada tahun 1994, PCA—yang menyajikan berbagai poin penting dalam menata pola hubungan antara Rusia dan UE—telah menjadi cornerstone bagi hubungan kedua aktor politik ini. Kendatipun demikian, banyak analis yang juga menyatakan pola hubungan kedua aktor ini lebih cenderung bersifat asimetris. UE merupakan partner dagang utama Rusia, sedangkan Rusia merupakan pemasok utama kebutuhan energi UE. Dalam bidang perdagangan, misalnya, total perdagangan UE terhadap Rusia mencapai 125 miliar euro pada tahun 2004 dengan defisit perdagangan bagi UE sebesar 35 miliar euro.

Rusia selama ini memasok kebutuhan energi UE sejumlah 50 persen kebutuhan gas UE dan 30 persen kebutuhan minyak mentah UE. Pada tahun 2030, diperkirakan Rusia memenuhi 70 persen kebutuhan total energi UE. Guna mengantisipasi berbagai implikasi negatif kebutuhan energi UE terhadap Rusia, kedua aktor telah bersepakat membentuk sebuah komisi bersama untuk membicarakan harga energi Rusia agar sesuai dengan harga pasar dunia, keamanan suplai energi, dan transfer teknologi. Arti penting energi dalam hubungan kedua aktor ini bahkan dirumuskan ke dalam pembentukan “European Strategy for Sustainable, Competitive and Secure Energy” yang akan diintegrasikan sebagai bagian dari kerangka besar kerja sama Rusia dan UE.

Bidang kerja sama lain yang juga mendapa perhatian Rusia dan UE adalah kerja sama dalam bidang internal security, freedom and justice, khususnya dalam aspek terorisme, nonproliferasi senjata pemusnah massal, kriminalitas terorganisasi, serta kerja sama kepolisian dan keimigrasian. Berbagai aspek keamanan tradisional, terutama nontradisional, di atas memang menjadi fokus perhatian disebabkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang relatif belum stabil di Rusia yang telah mendorong munculnya beragam ancaman keamanan individual di banyak negara UE.

Kemitraan antara Rusia dan UE juga merambah pada bidang-bidang politik keamanan yang bertujuan memberikan kontribusi pada keamanan dan perdamaian global. Namun, berbagai dialog di antara kedua aktor ini dalam bidang kebijakan luar negeri dan pertahanan baru hanya mencapai tingkat konsultasi. Hal ini terutama karena masih tajamnya perbedaan kepentingan antara Rusia dan UE. Rusia, misalnya, tetap menginginkan keterlibatannya dalam berbagai fora yang membahas perkembangan kebijakan pertahanan UE, khususnya yang membahas lingkungan keamanan di negara-negara bekas satelitnya dan negara pecahan Uni Soviet, seperti Polandia, Bulgaria, Moldova, dan Ukraina.

Sementara itu, UE pun menolak keterlibatan penuh Rusia dalam berbagai kebijakan pertahanan UE, khususnya mengabaikan usulan Rusia untuk membentuk EU-Russia Council. Usulan Rusia mengenai pembentukan dewan ini mengadopsi Permanent NATO-Russia Council yang sudah terbentuk sebelumnya antara NATO dan Rusia. Kendatipun memang telah banyak terbentuk beragam dialog politik keamanan antara Rusia dan UE, dari sisi substansi, kemitraan antara Rusia dan UE dalam bidang politik keamanan masih sangat lemah. Salah satu faktor utama masih lemahnya kerja sama dalam bidang politik keamanan ini adalah masih tajamnya ketidaksepakatan antara di kedua aktor mengenai bentuk (form) dan cakupan (scope) kerja sama yang ingin dibentuk.

Kemitraan Rusia dan UE kini memasuki masa transisi. Ketidakhatihatian dari kedua aktor ini dalam menegosiasikan kembali berbagai kepentingan strategis mereka hanya akan mendorong kemitraan ini menjadi sesuatu yang dapat mengganjal keutuhan UE dan pola hubungannya dengan AS. Pemilihan umum presiden Rusia pada tahun 2008 dapat menjadi salah satu indikator utama arah perjalanan kemitraan Rusia dan UE ini. Sebaliknya, kemampuan Rusia dan UE dalam menyinergikan berbagai kepentingan strategis mereka dapat menjadi faktor pendorong bagi terciptanya road map for a more solid basis for the future partnership.

Anak Agung Banyu Perwita PhD Wakil Rektor Bidang Hubungan dan Kerja Sama Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

Leave a Reply